the imitation game

“…it’s not ordinary, but who ever loved ordinary?”

Joan Clarke

 

Imitation-Game-Poster

Jenius matematika dari London, penyelamat banyak orang di Perang Dunia 2, pemecah kode Enigma, dan sayangnya, homoseksual, hal yang membawa Alan Turing menjadi pesakitan sampai akhir hidupnya. Bukankah hidup orang-orang besar selalu dipenuhi ironi? Arthur Scherbius harusnya tahu benar itu. Kedigdayaan mesin Enigma-nya berusaha dipecahkan oleh satu tim kryptoanalis Inggris di Bletchley Park. Demi mengakhiri Perang Dunia II. Mencegah Hitler menjadi penguasa tunggal Eropa. Menjadikan Churchill pemenang.

 

Terkadang orang yang tidak kita sangka, yang mampu melakukan hal yang tak disangka.

Alan Turing diceritakan mendesain satu mesin saingan enigma; Christopher. Seperti nama cinta pertamanya di sekolah asrama anak lelaki. Bersama 4 pria dan satu wanita muda, Joan Clarke, rekan yang kemudian menjadi tunangannya, memenuhi pondok  8 mengerjakan tugas paling rahasia sepanjang karir mereka. Ketika pada akhirnya teka-teki terpecahkan penonton akan melonjak bersama, tersadar oleh betapa asumsi yang rumit hanya akan menumpulkan pikiran.  Kalimat yang setiap hari selalu rutin ada lah yang menjadi kunci dari berbagai kode Jerman. Hail Hitler. Seperti pemecahan masalah yang lain, selalu sederhana.

Perang tetaplah perang, benar, bukan Tuhan yang menang, tapi manusia. Bukan Tuhan yang menciptakan perang, tapi manusia. Definisi baik dan jahat menjadi bias di 114 menit film ini. Karakter Turing diperankan Cumberbatch dengan hampir sempurna, seperti biasa, terutama ketika Turing diceritakan hampir depresi. Bagaimanapun orang yang menghabiskan setahun dalam hidupnya untuk pengobatan estrogen; cara agar tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis, dalam kasus Turing, sesama jenis, tentunya akan depresi, ya? Di paruh awal film, ia terlihat sedikit terlalu Sherlock BBC.

Sayangnya, kode yang terpecahkan bukan berarti semua masalah telah selesai. Disini sisi humanisme diuji kuat, antara pengkhianatan, simpati dan kenyataan. Ego masing-masing karakter dihadapkan pada rahasia besar yang harus tetap menjadi rahasia, bahkan untuk berpuluh tahun kemudian. Ide dasar dari Turing Test, dan semua komputer yang ada sekarang, membedakan manusia dan mesin yang berpikir. Alan Turing meninggal, kemungkinan terbunuh, kemungkinan lebih besar bunuh diri, oleh racun sianida. Tragis. Sudah kukatakan ia sedikit terlalu Sherlock.

The most memorable scene?  Mungkin ketika Joan Clarke terakhir menyambangi Turing. Bagaimana keberadaan kita mempengaruhi hidup orang lain, sesuatu yang tidak normal untuk seseorang mungkin saja akan menjadi luar biasa untuk yang lain. Dan itu istimewa.

The_Imitation_Game__797644a

 

Dan U-boat, tentu. Unterseeboot. Kapan-kapan bacalah buku seri Perang Eropa karya P.K. Ojong. Seru. Atau tonton saja film ini.

Menonton The Imitation Game seperti menjelma menjadi Turing dalam film, brilian tetapi tetap ada yang hilang. Walau review yang banyak beredar untuk film ini fokus pada pemecahan kode rumit Enigma, tapi isinya hanya tentang sekelumit kehidupan Alan Turing. Ini kan memang film tentang Alan Turing.

A biopic of Alan Turing. Tragedi Alan Turing tepatnya.

 

 

Special thanks untuk sponsor kali ini, mbak Rosy di Denpasar…rela nraktir walau terpisah pulau dan selat…hihi… *ketjupjauh*

DSC_0780

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s